Kamis, 19 Januari 2017

KONSEP ANTRIAN PINTAR PUSKESMAS BUBAKAN


Add caption

Persoalan antrian kerapkali menjadi hal yang sering dikeluhkan pengguna layanan. Lamanya waktu tunggu, bagi seorang pasien menjadi kegelisahan tambahan. Itu salah satu yang muncul dalam survey keluhan Puskesmas Bubakan, Kabupaten Pacitan, sebagaimana yang disampaikan Riyan, SKM, salah seorang petugas Puskesmas Bubakan Pacitan, di acara Lokakarya Keberlanjutan Inovasi Peningkatan Pelayanan Publik Program KINERJA di Provinsi Jawa Timur, kemarin, Selasa (30/6) di JW Marriot Hotel Surabaya.
Forum Pacitan : Stan Kesehatan yang diisi dengan pameran kegiatan dan hasil capaian bidang kesehatan selama Program KINERJA – USAID berlangsung sejak 2011 hingga berakhir saat ini, diisi oleh Organisasi Mitra Pelaksana LPA Tulungagung, YAPIKMA, dan dari Puskesmas Bubakan Pacitan. Salah satu inovasi baru yang banyak menarik peserta adalah capaian Puskesmas Bubakan, dengan “Ngantri Pintar”.
Apa sebenarnya Kartu Antri Pintar itu sendiri?
Riyan menjelaskan sebenarnya Kartu Antri Pintar merupakan respon dari keluhan masyarakat terhadap antrian menunggu layanan yang terasa lama. Biasanya, pasien akan mengambil kartu nomor antri, dan kemudian berdiam diri selama waktu tertentu menunggu panggilan menerima layanan. “Bagaimana caranya mereka tidak merasa lama menunggu. Bagaimana menunggu itu bagi mereka juga bermanfaat,” Riyan memberikan kunci terhadap keluaran baru yang menjadi inovasi dan solusi keluhan pasien.
“Coba sekarang ibu ambil nomor antrian yang kami sediakan,” katanya kepada kami. Namun pasti peserta tidak melihat adanya kartu antrian sebagaimana lazimnya, kertas atau karton yang hanya berukuran tak lebih dari 8 x 8 cm. Yang tersedia adalah brosur-brosur saja. Ternyata setiap brosur yang tersedia tercantum nomor yang berbeda-beda, berurutan. Inilah yang disebut Kartu Antri Pintar.
“Misalnya pasien mengambil nomor 5, berarti brosur yang ada angka 5. Sambil menunggu panggilan, pasien bisa membaca informasi kesehatan dalam brosur itu. Seperti yang kita baca di sini, kartu antrian nomor 5 memuat informasi tentang penyakit osteoporosis. Dan setiap nomor itu berisi satu jenis informasi kesehatan yang kita tuliskan dengan bahasa sederhana dan dilengkapi gambar-gambar untuk memudahkan pemahaman,” tutur Riyan. Dengan demikian, pasien tidak diam selama menunggu, dikondisikan untuk suka membaca informasi, dan menerima manfaat dari informasi kesehatan itu.
Inovasi ini sangat sederhana. Setiap Kartu Antri Pintar, yang lebih mirip brosur ini,  cukup dicetak dengan printer pada kertas HVS A4. Kartu ini harus dikembalikan pasien saat dipanggil untuk menjalani pemeriksaan kesehatan. Namun jika pasien ingin membawa pulang informasi kesehatan tersebut, Puskesmas juga menyediakan brosur-brosur yang bisa dibawa pulang, yaitu yang tanpa tertulis nomor antrian.
“Saya ingin meniru kartu antriannya Pacitan tadi. Itu yang paling nyata dan mudah untuk direalisasikan sepulang dari sini,” papar dokter Dwi Heru Wiyono, Kepala Puskesmas Kalidawir, Tulungagung. “Modalnya hanya kertas dan printer biasa,” tambahnya.
“Benar, kartu antrian itu paling mungkin untuk kita terapkan. Biayanya juga tidak besar,” timpal Suhartatik, Kasi KIA Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung. Jika setiap Puskesmas menyediakan 100 nomor antrian, berarti ada 100 informasi kesehatan yang disediakan. Informasi kesehatan itu bisa meliputi kesehatan ibu dan anak, penyakit menular, HIV-AIDS, gizi, dan kesehatan lingkungan. Saat ditanya apakah memungkinkan Kartu Antri Pintar disediakan Dinas Kesehatan, Suhartatik menyampaikan kemungkinan itu ada. Misal, disediakan untuk 100 nomor antrian untuk masing-masing Puskesmas yang ada di Tulungagung. Secara tidak langsung dapat digunakan sebagai kegiatan promosi kesehatan (promkes).
Riyan menambahkan, inovasi sederhana ini sangat tepat sebagai solusi persoalan antrian. Terobosan ini dapat diterapkan di semua unit layanan publik yang menuntut penerima layanan untuk antri untuk mendapatkan layanan, misalnya di catatan sipil, rumah sakit, bank, kantor pos, dan lain sebagainya.
Selain Antri Pintar, inovasi lainnya dari Puskesmas Bubakan adalah “hamil pintar”. “Bukan pintar hamil, lo bu,” kata Tiya, tim Kesehatan dari Pacitan. Untuk keberlanjutan program kesehatan yang sudah menunjukkan perubahan layanan yang lebih baik ini, Indartato, Bupati Pacitan yang hadir dalam acara ini, menyampaikan untuk rencana keberlanjutan dengan melakukan koordinasi dengan DPRD untuk replikasi di Puskesmas lainnya. Indartato saat talkshow juga mengingatkan agar pengaduan dan tindakan mengingatkan tidak ditanggapi dengan sakit hati.
SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI FORUM PACITAN SEHAT