Thursday, June 8, 2017

SAFARI RAMADHAN BUPATI PACITAN



FPS-PACITAN. Bupati Pacitan Indartato kembali menggelar safari Ramadhan 1438 H untuk kesekian kalinya. Bersama jajaran pejabat Pemkab, Indartato menggelar safari Ramadhan pertama kali dengan mengunjungi Kecamatan Sudimoro, Selasa (30/5/2017) bertempat di Desa Sudimoro. Di kecamatan paling ujung di Pacitan ini, Indartato menyerahkan bantuan BAZ kepada seluruh takmir masjid se-Kecamatan. selanjutnya pada Kamis (8/6/2017) di Masjid Al Muttaqin, Desa Kluwih, Kecamatan Tulakan.
Dalam sambutannya, Indartato mengapresiasi semua kegiatan Ramadhan di Pacitan.
“Kegiatan masyarakat dalam bulan suci ramadhan ini sangat bagus, sehingga kami berupaya semaksimal mungkin untuk membantu perbaikan dan kelancaran kegiatan ibadah, Semoga kita semua selalu mendapatkan rahmat dan hidayah Allah Ta’ala selamat di dunia dan akhirat”ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut Camat Tulakan Erwin Adriatmoko melaporkan bahwa kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat Tulakan dalam kondisi yang baik. Pelaksanaan Ibadah di Bulan ramadhan ini diharapkan akan semakin meningkatkan keshalehan sosial masyarakat Pcitan

Monday, May 15, 2017

Pacitan Ditetapkan Jadi Kabupaten Peduli BPJS


Pacitan - Pacitan menjadi kabupaten pertama di Indonesia yang peduli terhadap ketenagakerjaan. Hal ini ditandai dengan peluncuran Kabupaten Pacitan sebagai Kabupaten yang peduli BPJS ketenagakerjaan di Pendopo Kabupaten, Kamis (4/5/2017).
``Saya melihat kepedulian kabupaten Pacitan terhadap BPJS ketanagkerjaan sangat nyata dan pak bupati sangat konsen dengan hal tersebut,`` kata Kepala BPJS Ketenagakerjaan Kantor Wilayah Jawa Timur, Abdul Cholik.

Bukan sekadar wacana, wujud nyata pemerintah Kabupaten Pacitan akan BPJS ketenagakerjaan ini dikuatkan dengan diterbitkanya tiga peraturan bupati. Pertama, peraturan bupati terkait keikutsertaan perusahaan dalam BPJS ketenaga kerjaan. Kedua, peraturan bupati terkait sangsi administratif bagi pelanggar, dan terakhir peraturan bupati tentang BPJS ketenagakerjaan bagi perangkat desa serta pegawai honorer dan guru swasta.

``Sampai saat ini desa yang telah mengikutsertakan perangkatnya dalam BPJS ketenaga kerjaan di pacitan sebanyak 66 desa sisanya akan menyusul kemudian,`` tambahnya.

BPJS ketenagakerjaan sangat diperlukan karena memiliki manfaat cukup besar. Seperti disampaikan Bupati Indartato, salah satu tujuan adanya BPJS ketenagakerjaan ini adalah untuk jaminan perlindungan bagi para pekerja. Ini karena risiko kecelakaan dalam lingkungan kerja bisa terjadi sewaktu waktu.

``Saya berharap peraturan bupati ini dapat dilaksanakan dengan sungguh-sunguh,`` tegasnya.

Dari 166 desa dan lima kelurahan di 12 kecamatan se-Kabupaten Pacitan terdata sekitar 2.100 perangkat desa. Kemudian untuk tenaga honorer seluruh SKPD ada kurang lebih 1.600 pegawai, dan guru honorer kisaran 3.000 orang.

Mereka semua akan menambah angka kepesertaan sektor formal atau penerima upah (PU). Hingga sekarang, jumlah peserta BPJS Ketenagakerjaan KCP Pacitan tercatat 616 perusahaan, dan 1.375 jasa konstruksi. Sedangkan untuk tenaga kerja peserta tercatat 8.386 pekerja PU, dan 503 pekerja informal atau bukan penerima upah

Thursday, January 19, 2017

KONSEP ANTRIAN PINTAR PUSKESMAS BUBAKAN


Add caption

Persoalan antrian kerapkali menjadi hal yang sering dikeluhkan pengguna layanan. Lamanya waktu tunggu, bagi seorang pasien menjadi kegelisahan tambahan. Itu salah satu yang muncul dalam survey keluhan Puskesmas Bubakan, Kabupaten Pacitan, sebagaimana yang disampaikan Riyan, SKM, salah seorang petugas Puskesmas Bubakan Pacitan, di acara Lokakarya Keberlanjutan Inovasi Peningkatan Pelayanan Publik Program KINERJA di Provinsi Jawa Timur, kemarin, Selasa (30/6) di JW Marriot Hotel Surabaya.
Forum Pacitan : Stan Kesehatan yang diisi dengan pameran kegiatan dan hasil capaian bidang kesehatan selama Program KINERJA – USAID berlangsung sejak 2011 hingga berakhir saat ini, diisi oleh Organisasi Mitra Pelaksana LPA Tulungagung, YAPIKMA, dan dari Puskesmas Bubakan Pacitan. Salah satu inovasi baru yang banyak menarik peserta adalah capaian Puskesmas Bubakan, dengan “Ngantri Pintar”.
Apa sebenarnya Kartu Antri Pintar itu sendiri?
Riyan menjelaskan sebenarnya Kartu Antri Pintar merupakan respon dari keluhan masyarakat terhadap antrian menunggu layanan yang terasa lama. Biasanya, pasien akan mengambil kartu nomor antri, dan kemudian berdiam diri selama waktu tertentu menunggu panggilan menerima layanan. “Bagaimana caranya mereka tidak merasa lama menunggu. Bagaimana menunggu itu bagi mereka juga bermanfaat,” Riyan memberikan kunci terhadap keluaran baru yang menjadi inovasi dan solusi keluhan pasien.
“Coba sekarang ibu ambil nomor antrian yang kami sediakan,” katanya kepada kami. Namun pasti peserta tidak melihat adanya kartu antrian sebagaimana lazimnya, kertas atau karton yang hanya berukuran tak lebih dari 8 x 8 cm. Yang tersedia adalah brosur-brosur saja. Ternyata setiap brosur yang tersedia tercantum nomor yang berbeda-beda, berurutan. Inilah yang disebut Kartu Antri Pintar.
“Misalnya pasien mengambil nomor 5, berarti brosur yang ada angka 5. Sambil menunggu panggilan, pasien bisa membaca informasi kesehatan dalam brosur itu. Seperti yang kita baca di sini, kartu antrian nomor 5 memuat informasi tentang penyakit osteoporosis. Dan setiap nomor itu berisi satu jenis informasi kesehatan yang kita tuliskan dengan bahasa sederhana dan dilengkapi gambar-gambar untuk memudahkan pemahaman,” tutur Riyan. Dengan demikian, pasien tidak diam selama menunggu, dikondisikan untuk suka membaca informasi, dan menerima manfaat dari informasi kesehatan itu.
Inovasi ini sangat sederhana. Setiap Kartu Antri Pintar, yang lebih mirip brosur ini,  cukup dicetak dengan printer pada kertas HVS A4. Kartu ini harus dikembalikan pasien saat dipanggil untuk menjalani pemeriksaan kesehatan. Namun jika pasien ingin membawa pulang informasi kesehatan tersebut, Puskesmas juga menyediakan brosur-brosur yang bisa dibawa pulang, yaitu yang tanpa tertulis nomor antrian.
“Saya ingin meniru kartu antriannya Pacitan tadi. Itu yang paling nyata dan mudah untuk direalisasikan sepulang dari sini,” papar dokter Dwi Heru Wiyono, Kepala Puskesmas Kalidawir, Tulungagung. “Modalnya hanya kertas dan printer biasa,” tambahnya.
“Benar, kartu antrian itu paling mungkin untuk kita terapkan. Biayanya juga tidak besar,” timpal Suhartatik, Kasi KIA Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung. Jika setiap Puskesmas menyediakan 100 nomor antrian, berarti ada 100 informasi kesehatan yang disediakan. Informasi kesehatan itu bisa meliputi kesehatan ibu dan anak, penyakit menular, HIV-AIDS, gizi, dan kesehatan lingkungan. Saat ditanya apakah memungkinkan Kartu Antri Pintar disediakan Dinas Kesehatan, Suhartatik menyampaikan kemungkinan itu ada. Misal, disediakan untuk 100 nomor antrian untuk masing-masing Puskesmas yang ada di Tulungagung. Secara tidak langsung dapat digunakan sebagai kegiatan promosi kesehatan (promkes).
Riyan menambahkan, inovasi sederhana ini sangat tepat sebagai solusi persoalan antrian. Terobosan ini dapat diterapkan di semua unit layanan publik yang menuntut penerima layanan untuk antri untuk mendapatkan layanan, misalnya di catatan sipil, rumah sakit, bank, kantor pos, dan lain sebagainya.
Selain Antri Pintar, inovasi lainnya dari Puskesmas Bubakan adalah “hamil pintar”. “Bukan pintar hamil, lo bu,” kata Tiya, tim Kesehatan dari Pacitan. Untuk keberlanjutan program kesehatan yang sudah menunjukkan perubahan layanan yang lebih baik ini, Indartato, Bupati Pacitan yang hadir dalam acara ini, menyampaikan untuk rencana keberlanjutan dengan melakukan koordinasi dengan DPRD untuk replikasi di Puskesmas lainnya. Indartato saat talkshow juga mengingatkan agar pengaduan dan tindakan mengingatkan tidak ditanggapi dengan sakit hati.
SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI FORUM PACITAN SEHAT